Sabtu, 31 Mei 2014

Jurai Pepadun LAMPUNG

Marga Nyunyai

            Masyarakat yang melakukan Begawei Mepadun Munggahi Bumei adalah Marga Nyunyai kelompok dari Abung Siwo Migo (abung sembilan marga) masyarakat adat jurai Pepadun yang ada di Kelurahan Kota Alam Kecamatan Kotabumi Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung. Masyarakat yang terdapat di Kelurahan Kota Alam Kecamatan Kotabumi Selatan Kabupaten Lampung Utara, selain suku asli Lampung jurai Pepadun memiliki suku pendatang dari daerah lain yang telah menjadi warga dan menetap di kampung tersebut, yaitu: 1). Suku Jawa; 2). Suku Ogan; dan 3). Suku Batak.[1]
            Menurut Marwansyah Warganegara, masyarakat Lampung mula-mula bermukim di daerah Sekalabrak yang berada di sekitar Gunung Pesagi hingga tepian Danau Ranau, yang sekarang menjadi Kabupaten Lampung Barat.[2] Terdapat empat Empu yang merupakan cikal bakal masyarakat Lampung, keempat empu tersebut adalah: Empu Canggih bergelar Ratu Di Puncak, Empu Serunting Bergelar Ratu Di Pugung, Empu Rakihan bergelar Ratu Di Belalaw, dan Empu Aji Saka bergelar Ratu Di Pemanggilan.[3]
            Singkat cerita yang membentuk kelompok jurai Pepadun Abung Siwo Migo adalah Empu Canggih bergelar Ratu Di Puncak yang beristri tiga. Ketiga orang istri Empu Canggih tersebut adalah Puteri Laut Lebu yang melahirkan anak puteri Nuban, Puteri Ranau yang melahirkan anak Nunyai dan Unyi, Puteri Pagaruyung yang melahirkan anak Betan lebih dikenal dengan nama Subing.[4]
            Abad ke 14 terjadi migrasi dari daerah Sekalabrak ke seluruh wilayah Lampung, dikisahkan Empu Canggih melakukan perjalanan mencari daerah baru untuk mendirikan perkampungan, bermigrasi Empu Canggih ke daerah Selabung selanjutnya pindah lagi ke Canguk Gaccak. Lokasi Canguk Gaccak inilah sebagai tempat bergabungnya marga-marga seperti marga Kunang, marga Anak Tuho, marga Selagai, marga Nyerupa dan marga Beliuk untuk menjadi satu kelompok yang dinamakan Abung Siwo Migo.[5]
            Menurut Imam Yang Suttan, bahwa Nyunyai gelar adat Minak Trio Deso hidup pada tahun 1670 sampai dengan 1775. Minak Trio Deso memiliki maju (istri) dua, yang pertama Minak Rajo Lemawung dari daerah Melinting dan yang kedua Minak Munggah Dabung dari daerah Sekipi. Dari istri yang pertama memiliki anak keturunan yaitu Minak Penatih Tuho, sedangkan dari istri yang kedua memiliki anak keturunan Minak Krio Demung Latco, dan Minak Kebahyang.[6]
            Beliau Minak Penatih Tuho menurunkan anak keturunannya yang pertama Minak Semelasem, yang kedua Minak Gutti Selango (Krio Lanang Jayo). Beliau Minak Krio Demung Latco menurunkan anak keturunannya di Kampung Surakarta, Kampung Mulang Maya, Kampung Bandar Abung, sedangkan beliau Minak Kebahyang menurunkan anak keturunanya di Kampung Blambangan dan Kampung Kota Alam.[7]
            Masyarakat Kampung Kota Alam memiliki marga (keturunan) dari Nyunyai yang bergelar Minak Trio Diso melalui istri yang kedua Minak Munggah Dabung. Minak Munggah Dabung memiliki dua anak dan salah satu anaknya yang kedua yaitu Kebahyang menurunkan keturunannya di Kampung Kota Alam serta tergolong kelompok Abung Siwo Migo jurai Pepadun.[8] Masyarakat Kampung Kota Alam memiliki istilah sukeu (kelompok masyarakat yang dikelompokkan dalam satu wilayah akan tetapi masih dalam satu kesatuan Kampung Kota Alam). Sukeu-sukeu masyarakat Kampung Kota Alam yaitu sukeu Bilik Gabo, sukeu Balai Dunio, sukeu Ruang Tengah, sukeu Bilik Libo, dan sukeu Bujung.[9]
            Menurut keterangan Jainudin, sukeu-sukeu di Kampung Kota Alam memiliki dua kelompok, yaitu kelompok sukeu pendatang dan kelompok sukeu asli. Yang dimaksud kelompok pendatang, adalah kelompok  masyarakat dari daerah lain yang bergabung dalam adat istiadat masyarakat Kampung Kota Alam. Kelompok masyarakat ini, setelah mematuhi dan mengerti adat istiadat Kampung Kota Alam mereka diberikan tempat wilayah di Kampung Kota Alam. Sukeu-sukeu dalam golongan kelompok masyarakat pendatang dinamakan sukeu Bilik Libo dan sukeu Bujung. Yang dimaksud kelompok asli yaitu masyarakat asli marga (keturunan) dari Nyunyai dan sukeu-sukeu dalam golongan kelompok masyarakat asli dinamakan sukeu Bilik Gabo, sukeu Balai Dunio, dan sukeu Ruang Tengah.[10]
            Prosesi Begawei Mepadun Munggahi Bumei yang berada di Kampung Kota Alam terdapat di wilayah sukeu Ruang Tengah. Tuan rumah (saybul hajad) yang melakukan Begawei Mepadun yaitu Suttan Mergo Abung sebagai penyimbang Tuan Rajo Pengiran, serta Suttan Ninggau Migo sebagai penyimbang Pengiran Mangku Negara, dan Tengku Abdi Negara. Akan tetapi dikarenakan saybul hajad Bapak Zainal gelar adat Suttan Rajo Diningrat, Bapak Ajas gelar adat Suttan Mangku Negara, dan Bapak Fatha Suttan Abdi Negara telah mengambil gelar adat tertinggi di jurai Pepadun, maka mereka tidak lagi menjadikan Suttan Mergo Abung dan Suttan Ninggau Migo menjadi penyimbang (pemimpin adat) mereka, melainkan mereka sendiri telah menjadi penyimbang di dalam keluarga dan anak keturunan mereka.
            Bapak Fatha gelar adat Tengku Abdi Negara yang sekarang telah bergelar adat yang tertinggi di jurai Pepadun yaitu Suttan Abdi Negara ini yang baru saja menikah tanggal 28 Februari 2013, beliaulah syarat acara Begawei Mepadun ini berlangsung. Dikarenakan tidak akan ada acara Begawei Mepadun berlangsung apabila tidak ada yang melakukan pernikahan, setelah ada masyarakat adat yang menikah barulah perundingan keluarga besar untuk melakukan prosesi Begawei Mepadun Munggahi Bumei. Bagan di bawah ini menjelaskan silsilah Kampung Kota Alam.

 Keterangan:
---------    = Silsilah Kampung Kota Alam dan Sukeu
                = saybul hajad yang melakukan Begawei Mepadun Munggahi Bumei
I (Italic) = Sukeu Asli (Warga Asli), Sukeu Pendatang (Warga Pendatang)
U (Underline) = Nama (Kampung/Kelurahan) yang masih satu asal keturunan
B (Bold) = Appuw Tuyuk (Kakek Moyang) Asal Muasal
I (Italic), B (Bold) = Penyimbang saybul hajad
B (Bold), U (Underline) = saybul hajad yang mengambil gelar adat suttan.

1. Abung Siwo Migo
            Abung Siwo Migo berarti abung sembilan marga, yaitu: 1). Marga Nyunyai; 2). Marga Unyi; 3). Marga Nuban; 4). Marga Subing; 5). Marga Kunang; 6). Marga Anak Tuho; 7). Marga Selagai; 8). Marga Nyerupa; dan 9). Marga Beliuk. Penyebaran kampung-kampung (kelurahan) Abung Siwo Migo di Provinsi Lampung,[11] sebagai berikut.
a. Marga Nyunyai
            Marga Nyunyai yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung-kampung (kelurahan) seluruh Kabupaten Lampung Utara, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: 1). Kampung Kota Alam; 2). Kampung Blambangan; 3). Kampung Bumi Abung Marga; 4). Kampung Surakarta; 5). Kampung Bandar Abung; 6). Kampung Mulang Maya; 7). Kampung Gedung Nyapah; 8). Kampung Pungguk Lama; 9). Kampung Penagan Ratu; 10). Kampung Negeri Kegelungan; 11). Kampung Labuhan Dalem; 12). Kampung Banjar Abung; 13). Kampung Kotabumi Ilir; 14). Kampung Kotabumi Tengah; 15). Kampung Kotabumi Udik; 16). Kampung Bumi Nabung Way Abung; 17) Kampung Bumi Nabung Way Seputih; 18). Kampung Bumi Nabung Cappang; dan 19). Kampung Cahaya Negeri.[12]
b. Marga Unyi
            Marga Unyi yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan) Kabupaten Lampung Tengah, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: 1). Kampung Gunung Sugih Way Seputih; 2). Kampung Gunung Sugih Baru; 3). Kampung Surobayo Ilir; 4). Kampung Surobayo Udik; 5). Kampung Buyut Ilir; 6). Kampung Buyut Udik; 7). Kampung Rantau Jaya; 8). Kampung Teluk Dalem Way Seputih; 9). Kampung Rantau Jaya; dan 10) Kampung Sukadana.[13]
c. Marga Subing
            Marga Subing yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan) Kabupaten Lampung Tengah, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: 1). Kampung Terbanggi Besar; 2). Kampung Terbanggi Ilir; 3) Kampung Terbanggi Labuhan; 4) Kampung Terbanggi Marga; 5). Kampung Terbanggi Agung; 6). Kampung Terbanggi Subing; 7). Kampung MetaramTua; 8). Kampung Metara Ilir; 9). Kampung Metaram Baru; 10) Kampung Metaram Marga;  11). Kampung Lempuyang Bandar; 12). Kampung Rajo Bbaso Batang Hari; 13). Kampung Rajo Baso Lamo; 14). Kampung Rajo Baso Baru; 15). Kampung Labuhan Ratu Megeraw; 16). Kampung Jepara Panet; 17). Kampung Indra Subing; dan 18). Kampung Semangka Kota Agung.[14]

d. Marga Nuban
            Marga Nuban yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung-kampung (kelurahan) Kabupaten Lampung Tengah, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: 1). Kampung Bumi Jawo; 2). Kampung Bumi Tinggi; 3). Kampung Bumi Ratu; 4). Kampung Kampung Gunung Tigo; 5). Kampung Lihan; 6). Kampung Gedung Dalem; dan 7). Kampung Suraja Nuban.[15]
e. Marga Nyerupa
            Marga Nyerupa tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan), penyebaran kampung-kampungnya yaitu: 1). Kampung Komering Putih; 2) Kampung Komering Agung; dan 3). Kampung Fajar Bulan.[16]
f. Marga Beliuk
            Marga Beliuk yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan), penyebaran kampung-kampungnya yaitu: 1). Kampung Bandar Putih; 2). Kampung Tanjung Ratu; 3). Kampung Gedung Ratu; 4). Kampung Negeri Nabun; 5). Kampung Negeri Nabun; 6). Kampung Negeri Jematen; dan 7). Kampung Negeri Tua.[17]
g. Marga Kunang
            Marga Kunang yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan), Kabupaten Lampung Tengah dan penyebaran kampungnya yaitu: 1). Kampung Aji Kagungan; 2). Kampung Pager; 3). Kampung Tanjung Kemalo; 4). Kampung Negaro Ratu Natar; 5). Kampung Negaro Ratu Masgar; dan 6). Kampung Labuhan Ratu Tanjung Karang.[18]
h. Marga Selagai
            Marga Selagai yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan) Kabupaten Lampung Utara, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: 1). Kampung Pekurun; 2). Kampung Negeri Agung; 3). Kampung Tanjung Ratu Selagai; 4). Kampung Gedung Nyapah Selagai; 5). Kampung Negeri Katun; 6). Kampung Gedung Wani; 7). Kampung Nyappir; dan 8). Kampung Gedung Gematti.[19]
i. Marga Anak Tuho
            Marga Anak Tuho yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung-kampung (kelurahan) Kabupaten Lampung Tengah, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: 1). Kampung Padang Ratu; 2). Kampung Haduyang; 3). Kampung Kuripan; 4). Kampung Tanjung Harapan; 5). Kampung Negaro Bumi Udik 6). Kampung Negaro Aji Tuho; 7). Kampung Negaro Bumi Ilir; 8). Kampung Bumi Aji Tuho; dan 9). Kampung Aji Pemanggilan.[20]





Footnoot:
         [1]Wawancara dengan Rahman tanggal 15 Maret 2013 di rumah kediamannya, diijinkan untuk dikutip.
    [2]http://institut-lampungologi.blogspot.com/2009/05/asal-usul-suku-lampung.html diakses tanggal 10 Maret 2013.  
    [3]Ibid.
    [4]Ibid.
    [5]Ibid.
    [6]Iman Yang Suttan, Seratus Tigo Genep Wo Ganjil (Lampung Utara: t.p., 1993), p. 50.
    [7]Ibid.
   [8]Wawancara dengan Sarbini tanggal 13 Maret 2013, di rumah kediaman Saiful Dermawan, diijinkan untuk dikutip.
    [9]Wawancara dengan Firmansyah tanggal 15 Maret 2013 di rumah kediamannya kampung Kota Alam, diijinkan untuk dikutip.  
    [10]Wawancara dengan Jainudin tanggal 4 Maret 2013 di rumah Zainudin kampung Kota Alam, diijinkan untuk dikutip.
    [11]Wawancara dengan Alam Syah tanggal 16 Maret 2013 di rumah kediamannya daerah perumnas Tulung Mili,diijinkan untuk dikutip.
                [12]Ibid.
                [13]Ibid.
                [14]Ibid.
                [15]Ibid.
                [16]Ibid.
                [17]Ibid.
                [18]Ibid.
                [19]Ibid.
                [20]Ibid.

Sabtu, 03 Mei 2014

Gitar Klasik Lampung (Tulang Bawang)

            

     
Seniman Gitar Klasik Lampung Tulang Bawang (Cikdin Syahri SM)

     Sejarah Gitar Klasik Lampung

Dari semua sumber yang digali, tidak ada yang dapat memastikan sejak kapan gitar masuk ke Tulang Bawang. Walupun demikian, masyarakat Tulang Bawang menganggap, bahwa gitar adalah sisa-sisa persentuhan mereka dengan Portugis dan Belanda. Persentuhan masyarakat Tulang Bawang dengan bangsa asing dimulai di Banten pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kadir (1605-1640). Pada masa itu, Banten telah ada orang-orang Belanda, Portugis, Spanyol, dan Inggris, yang datang karena tertarik rempah-rempah yang melimpah di Nusantara. Portugislah yang pertama kali berhasil membangun benteng dan jaringan perdagangan di wilayah ini, seperti di Ternate, Tidore, Ambon, Seram, Flores dan Timor, muar di Selatan Malaysia, Tugu di Jakarta, Makassar, dan Timor Timur.[1] Bangsa Portugis ternyata juga membawa beberapa alat music, Yaitu: giatar, violins alto (viola dalam bahasa Portugis; biola dalam bahasa Indonesia-Melayu) dan perkusi. Disamping itu juga meniggalkan komunikasi keturunan Portugis yang menetap di wilayah tertentu, seperti Tugu di Jakarta dan kampong Serani di perkampungan nelayan di Malaka. Juga hanya bangsa Portugislah di antara para kolonialis Eropa yang berani menikah dengan wanita setempat, lau menetap di sana. Keturunan Portugis ini biasa memakai nama Portugis berikut segala kebiasaannya.

            Menurut R. Abdurrahman dalam Tesis Misthohizzaman halaman 68, setelah melewati 80 tahun persentuhan dengan wilayah Asia Tanggara, terbentuklah suatu populasi campuran dengan budaya etnis setempat dan serapan dari Afrika, India, Melayu, dan Portugis sendiri, yang kesemuanya masih dapat dijejaki secara jelas dalam bentuk lagu, music dan tari. Hasil percampuran yang tersebar di wilayah Asia Tenggara ini salah satunya adalah ansambel Keroncong. Dalam pertunjukan keroncong secara tradisional di Kampung Tugu, gitar keroncong dipadukan dengan cuk dan cak. Cuk bernada rendah dimainkan tepat pada ketukan, sementara cak yang bernada tinggi dimainkan tidak pada jatuh ketukan (counterbeat), para musikolog juga menganggap keroncong bukanlah music asli bangsa Indonesia, melainkan music hasil percampuran antara music Eropa, Melayu, dan Polenesia. Keberadaan keroncong di Indonesia, telah diakui sebagai warisan Portugis yang bercampur dengan kekayaan local. Pada genre gitar kalsik Lampung Tulang Bawang, keberadaan gitar dan ukulele yang disebut dengan cuk, kroncong atau kruccung, mengisarakat adanya persamaan atau kedekatan hubungan dengan music keroncong di Jawa.

            Pengakuan,bahwa gitar merupakan warisan Portugis juga dibenarkan oleh seniman Tulang Bawang. Kehadiran Portugis di Tulang Bawang diakui memang pernah terjadi. Pengaruh Belanda yang menetap di Tulang Bawang sejak tahun 1655 hingga 1913, saat peran Menggala sebagai pusat perdagangan dialihkan ke Teluk Betung dan Kotabumi, jelas menorehkan jejak yang cukup dalam, seperti system tatakota Menggala dengan jalan-jalan yang lurus dan teratur, bentuk arsitektur bangunan, juga nama-nama jalan di Menggala yang hingga saat ini masih memakia bahasa Belanda, yaitu Strat I sampai Strat V. Dalam pertunjukan gitar klasik Lampung Tulang Bawang,pengaruh belanda dapat dijejaki dengan kata yang digunakan. Lagu tetti’ satu kris misalnya. Kata kris berasal dari kruis berarti naik setengah nada. Juga stem pal yang berasal dari Belanda stem melaras dan fals, yang berarti sumbang. Nama-nama lagu atau petikan gitar klasik Lampung juga memiliki kesamaan dengan yang ada di luar Lampung. Misalnya ada yang bernama kembang kacang, yang merupakan judul lagu keroncong di Jawa. Juga stambul yang di Jawa merupakan salah satu bentuk Keroncong.

  Nama Gitar Klasik Lampung

Kata klasik berasl dari bahasa Latin classicus yang lebih jauh berasal dari classisi merujuk kepada kelompok masyarakat yang menduduki kasta tertinggi di Roma. Sementara Pono Banoe memberikan batasan dengan: Klasik. 1) keadaan atau kondisi yang mutunya patut dicontoh dan terikat pada tradisi. 2) Zaman lampau, periode sebelum Zaman romatik. Periode sebelum zaman sekarang. 3) Gaya music masa kejayaan Haydn, Mozart dan Beethoven pada saat mana music dibakukan dan menjadi panutan periode zaman berikutnya.[2]

Sumber lain, menyebutkan makna klasik dengan: 1.Mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolak ukur kesempurnaan yang abadi; tertinggi; 2. Karya sastra yang bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolak ukur atau karya susastra zaman kuno yang bernialai kekal; 3. Bersifat seperti seni klasik, yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan; 4. Termasyhur karena bersejarah; 5. Tradisional dan indah.[3]

Dari semua terminology yang ada diatas, yang terasa lebih tepat untuk memberi batasan arti terhadap kata klasik dalam gitar klasik Lampung adalah sederhana, serasi, tidak berlebihan, mempunyai nilai atau mutu yang diakui, dan menjadi tolak ukur serta terikat kepada tradisi. Disamping itu, gitar klasik Lampung seperti juga teknik petikan dawai pada gitar klasik Barat, hanya mengenal teknik petikan satu persatu nada dan tidak ada nada yang dibunyikan secara bersama untuk membentuk akord, hal inilah yang menyebabkan genre kesenian ini diberi nama gitar klasik Lampung, dan ini dibenarkan oleh pra pelaku seniman pendukung gitar klasik Lampung. Raja Tihang Aneu dan Abu Tholib Khalik berpendapat, bahwa nama klasik didapat karena muatan syair dalam gitar klasik Lampung yang penuh dengan nilai-nilai social dan ajaran agama, sehingga dianggap sangat bermutu. Gitar klasik Lampung juga dikenal dengan nama lain, yaitu gitar tunggal, karena dapat dimainkan hanya dengan satu gitar saja. Istilah giatr tunggal lebih banyak digunakan oleh masyarakat Say Batin, hal ini karena masyarakat Say Batin menganggap music klasik buat mereka adalah gambus.[4]

PAPARAN GITAR KLASIK LAMPUNG PADA MASYARAKAT TULANG BAWANG

A.     Unsur-unsur Dasar Pertunjukan Gitar Klasik Lampung

      Pemain dan organisasi pemain

Gitar klasik Lampung ditinjau dari salah satu fungsinya merujuk batasan Soedarsono adalah hiburan pribadi,[5] sehingga dapat dimainkan oleh seorang pemain saja. Tetapi karena juga digunakan dalam kegiatan social yang tidak terkait atau bersifat peribadatan, maka ia pun dapat ditampilkan di depan public baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Gitar klasik Lampung Tulang Bawang adalah jenis permainan music vocal instrumenat yang dapat tampil solo maupun dalam bentuk ansambel.  Di mainkan seorang diri maka pemetik gitar merangkap menjadi menyanyi atau mengiringi penyanyi lain, sedangkan bila mengiringi penyanyi dalam bentuk ansambel, maka gitar, cuk dan botol limun dimainkan bersama-sama. Peran penyanyi dapat dirangkap oleh satu pemain ataupun orang lain. Tidak ada pembatasan jenis kelamin dalam genre ini, sehingga dapat dimainkan oleh pria dan wanita untuk mengiringi penyanyi pria atau wanita. Walaupun demikian, ternyata kesenian ini dianggap oleh banyak dikuasai oleh kaum wanita sejak paling tidak untuk satu atau dua generasi lebih tua dahulu kala.

Hal ini karena pengaruh konsep dan hokum adat megou pak tulang bawang yang melarang anak gadis mereka keluar rumah saat orang tuannya pergi, dan juga harus diantar bila keluar rumah. Dirumah, mereka diwajibkan untuk belajar menguasai segala pekerjaan dan keterampilan sebagai bekal kelak berumah tangga. Untuk menghalau kejenuhan mereka diizikna untuk menghibur diri sendiri, termasuk belajar memetik gitar. Demikian lah, perlahan-lahan dominasi penguasaan wanita tulang bawang terhadap permainan gitar klasik lampung ini terbentuk. Kaum pria juga menguasai genre kesenian ini, karena disamping berfungsi sebagai hiburan pribadi, juga dapat digunakan sebagai penambah daya tarik lawan jenisnya, dan penambah tingkatan status social secara informal. Posisi laki-laki ini diperkuat kaidah hukum masyarakat tulang bawang yang menganut prinsip mayorat laki-laki, yaitu lebih mendahulukan kepentingan laki-laki, terlebih diranah public. Wanita diizinkan tampil kedepan public secara terbatas, seperti acara keluarga. Bila tampil solo ia memetik gitar dan merangkap menjadi penyanyi, sedangkan bila ada laki-laki yang menemaninya, kaum wanita lebih cenderung tampil hanya sebagai penyanyi saja.

Hal ini menjadi salah satu penyebab berkurangnya tingkat penguasaan kaum wanita Tulang Bawang generasi sekarang dalam memainkan gitar klasik Lampung. Penurunan tingkat penguasaan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, yang menyediakan beragam hiburan dan perlahan menggeser posisi gitar klasik Lampung sebagai hiburan di kala senggang. Ada beberapa kelompok penggiat seni di Tulang Bawang yang biasa menyertakan gitar klasik Lampung dalam pertunjukan, selain tari-tarian, yaitu: (1) Sanggar Besapen asuhan Pemda Kabupaten Tulang Bawang; (2) Sanggar Rio Tengah Menggala; (3) Sanggar Lebuh Kancah Indah Panaragan; dan (4) satu Sanggar lagi didaerah Pagardewa. Setiap sanggar umunya memiliki seorang ketua yang melakukan kerja-kerja administrasi dan terkandung juga wilayah estetik. Jadwal latihan dibuat bersama dengan menimbang keluangan waktu anggota yang menegaskan, bahwa gitar klasik Lampung belum dapat dijadikan sandaran utama dalam menfkahi hidup pendukungnya, juga mengentalkan fungsinya sebagai genre kesenian perintang waktu belumlah pudar. Ketua juga mencari alternative tempat pertunjukan dan sumber penghasil yang dibutuhkan organisasi, seperti mencari dan menghubungi produser yang berminat memproduksi karya seni mereka, bahkan tidak jarang, ketua bersama anggotanya membiayai sendiri produksi karya seni yang mereka buat.

       Alat musik

Alat musik yang digunakan dalam pertunjukan gitar klasik lampung pada awalnya hanya gitar dan kemudian berkembang menjadi ansambel kecil yang terdiri dari gitar, cuk, dan botol limun. Saat ini, bas elektris juga mulai digunakan dalam pertunjukan gitar klasik lampung. Kedudukan botol limun saat ini juga sudah sering digantinkan juga oleh triangle. Semua alat music yang digunakan dalam gitar klasik lampung saat ini adalah alat music yang umum dijual dipasaran, dalam arti tidak ditemukan orang yang bekerja khusus sebagai pembuat alat music tersebut. Juga sudah tidak lagi ditemukan alat music dengan motif hiasan yang khas.

3.      Tempat Pertunjukan


    Gitar klasik Lampung umunya ditampilkan dipanggung atau tempat yang sengaja ditinggikan sehinga lebih mudah disaksikan oleh para hadirin. Pada acara Jaga Damar gitar klasik Lampung dimainkan diberanda rumah pangung, atau dihalaman rumah dengan kursi yang disusun berhadap-hadapan. Dalam acara perkawinan, biasanya gitar klasik Lampung ditampilkan ditempat yang disediakan untuk pengisi acara hiburan, umunya tempat memberi sambutan dan sebagainya, atau dapat juga tampil didepan pelaminan kedua mempelai.

4.      Penonton

Penonton yang hadir dalam pertunjukan gitar klasik Lampung biasanya adalah orang yang menghadiri sebuah acara yang menghadirkan gitar klasik Lampung sebagai hiburannya. Hal ini terjadi karena sangat jarang ada pertunjukan khusus gitar klasik Lampung, dengan waktu, tempat, da penampil tertentu baik yang memungut biaya masuk tertentu maupun Cuma-Cuma. Masyarakat memberikan tanggapan terhadap pertunjukan yang berlangsung dengan memberikan komentar sepontan, terutama bila syair yang dinyanyikan dirasakan mengena dihati pendengarnya. Penonton terkadang menyebutkan judul lagu tertentu sebagai permintaan untuk dinyanyikan, yantg umunya sudah dikenal dimasyarakat, atau ciptaan sang seniman.

5.      Waktu Pertunjukan

Tidak ada batasan tetap tentang waktu pertunjukan gitar klasik lampung tulang bawang. Pada jaga damar, permainan gitar klasik lampung dapat berlangsung cukup lama karena jaga damar itu sendiri berlangsung semalam penuh, kecuali pada bulan Ramadan yang dibatasi hingga menjelang waktu saur tiba saja. Selain malam jaga damar, waktu pertunjukan biasanya diserahkan kepada pihak yang mengundang, terkadang pagi, siang atau malam hari. Gitar klasik lampung juga dipakai para pemuda saat berkunjung kerumah gadis idamannya, biasanya dilakukan pada siang hingga sore atau malam hari seusai magrib.

6.      Penyelenggara

Sebagai seni pertunjukan yang berangkat dari hiburan pribadi dan kemudian bergerak memasuki wilayah public, gitar klasik lampung tampil dengan dua alasan. Pertama, factor internal, artinya keinginan untuk tampil berasal dari inisiatif pelakunya dan kedua factor eksternal, yaitu keinginan adanya suatu pertunjukan dengan inisiatif berasal dari luar pemainnya. Keinginan untuk tampil kewilayah public berdasarkan factor internal, umunya didorong oleh tujuan pribadi yang bersifat menunjukan bakat dan prestise sang senimanya. Hal ini terlihat dari pemanfaatan gitar klasik lampung dalam aktifitas pergaulan bujang gadis, atau seorang pemain gitar klasik yang menawarkan diri untuk tampil dalam sebuah acara. Dalam batasan internal ini, lazimnya pemain tidak dapat imbalan jasa dalam arti financial untuk penampilannya.

Umunya penyelengara sebuah acara yang menampilkan gitar klasik lampung adalah keluarga yang sedang begawei adat, seperti pernikahan atau khitana. Institusi yang lain juga tercatat pernah mengundang seniman gitar klasik lampung untuk tampil adalah lembaga-lembaga penyiaran pemerintah maupun suasta, seperti RRI, Radio swasta, TVRI Lampung dan LTV ( Lampung televisi). Tidak ketinggalan, gitar klasik lampung juga pernah dimaanfaatkan oleh partai politik untuk memeriahkan kegiatan partai politik tersebut seperti kampanye pemilihan umum. Undangan ini menegaskan, bahwa gitar klasik lampung dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih luas. Perkembangan terakhir gitar klasik lampung juga tampil dalam acara yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintahan, yang dipengaruhi kebijakan pemerintah propinsi Lampung sejak era otonomi daerah prihal perkembangan seni budaya local, dan pemda Tulang Bawang menanggapinya mendirikan sanggar kesenian untuk mengali potensi seni budaya Tulang Bawang.

B.     Sistem Pelarasan, Lagu.

System pelarasan gitar yang biasa digunakan masyarakat Tulang Bawang dalam memainkan lagu-lagu klasik Lampung Tulang Bawang bebeda dengan lazimnya penalaan gitar standar. System penalaan ini ditinjau dari segi praktis empiris, mengedepankan semangat pencarian kemudahan dalam memetik gitar dan efisiensi, yang memang diakui oleh para Pelakunya. Tinjauan praktis terhadap teknik penjarian memang menegaskan semangat efisiensi dalam berkarya, mengolah kondisi menimalis untuk mencapai hasil maksimum. Pembahasan system pelarasan didahului karena menurut R. Supanggah, melalui laras jauh lebih mudah mengenali music dibandingkan lewat kualitas suara, komposisi music, bentuk, ritme, atau pola permainan musical.[6] System pelarasan giatr klasik Lampung Tulang Bawang tersebut adalah; (1) stem pal; (2) stem kembang kacang; (3) stem be; (4) stem hawayang; dan (5) stem sanak mewing di ejan, denagn tinggi nada dawai masing-masing adalah sebagai berikut.

           
No
Nama Sistem Pelarasan
Tinggi nada dawai ke
1
2
3
4
5
6
1
Stem Pal
e’
c’
g
d
Bb
F
2
Stem Kembang Kacang
e’
b
f#
c#
A
F#
3
Stem Be
e’
b
g
d
A
G
4
Stem Hawayang
d’
b
g
d
A
G
5
Stem Sanak Mewang di Ejan
e’
b
g
d
B
G
6
Standar
e’
b
g
d
A
E

Tabel 1. System pelarasan dawai pada gitar klaisk Lampung Tulang bawang (1-5) san system pelarasan gitar standar.

System pelarasan berbeda ini juga dikenal dalam marga dan etnis lain, seperti masyarakat Abung Siwo Megou di Lampung Utara, masyarakat Mandar di Sulawesi Selatan, demikian juga masyarakat Manado, bahkan di Hawaii, hamper setiap kepala keluarga memiliki system pelarasan mereka sendiri-sendiri. Dawai pertama disebut bernada e’ adalah sebagai pemudah perbandingan, karena pada prakteknya dilaras sesuai keinginan pemain gitar klasik Lampung Tulang Bawang, dapat bernada e’ dan dapat juga bukan. Dawai pertama selalu menjadi patokan dalam melakukan pelarasan, baik pada permainan gitar klasik Lampung Tulang Bawang maupun gitaris lain di seluruh dunia.

Penyesuaian tinggi nada dawai pertama pada gitar klasik Lampung ini biasanya dilakukan dengan beberapa pertimbangan, yaitu: (1) penyesuaian terhadap ambitus suara penyanyi; dan (2) penyesuaian terhadap ketegangan dawai yang rentan memutuskan dawai gitar, saat bermain sendiri terlebih saat kolektif. Dalam permainan bersama, pelarasan merujuk kepada gitar yang terendah kekuatan dawai dan kondisi organologinya. Pola sikap ini menyiratkan keterbukaan terhadap unsure asing yang datang dari luar lingkuangannya, menyerapnya dan kemudian mengolahnya menjadi satu pertunjukan yang tidak mengindikasikan kelemahan salah satu komponennya, tetapi lebih menunjukan kekuatan kolektif yang muncul dari sekumpulan keadaan yang berbeda-beda kekuatannya. Sikap ini menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap hadirnya pendatang dan saat yang sama menghormati tatanan yang sudah mapan bila memasuki wilayah lain. Prinsip toleransi adalah mencari persamaan dalam perbedaan, dan toleransi inilah wujud pengaruh pandangan hidup masyarakat Lampung Tulang Bawang nemui nyimah, suka menerima tamu dan suka member sesuatu kepada orang lain.

Penyamaan laras gitar yang dimiliki dengan gitar orang lain, juga dapat dimaknai sebagai dilandasi falsafah negah nyappur, yaitu kehendak untuk masuk ke tengah kalangan komunitas lain dan bergaul secara aktif di dalamnya dengan menghormati segala kaidah yang dimiliki oleh komunitas tersebut. Sisi lain adalah munculnya kesadaran dan kiat untuk mengolah bahan yang tersedia (kondisi gitar berkemampuan terendah) dan menampilkannya dengan yang terbaik, yang pada dasarnya didorong oleh bentuk positif penafsiran lanjutan dan pi’il pasenggiri, yakni kesenengan terhadap pujian, kebesaran nama, keagungan martabat dan sikap menjunjung tinggi harga diri. Dalam genre gitar klasik Lampung Tulang Bawang dikenal 9 buah lagu yang disebut petikan atau tetti’, yang masing-masing bermelodi baku, dan biasanya dimainkan dengan system pelarasan tertentu. Kesembilan lagu tersebut adalah: (1) tetti’ pal; (2) tetti’ kembang kacang; (3) tetti’ stambul; (4)  tetti’ keroncong pandan; (5) tetti’ tiga serangkai; (6) tetti sanak mewing di ejan; (7) tetti’ las bas; (8) tetti’ satu kris; dan (9) tetti’ hawayang. Kesmbilan tetti dalam genre gitar klasik Lampung Tulang Bawang di atas dimainkan dalam system pelarasan tertentu, dan dikenal juga dengan beberapa istilah lain seperti terlihat pada table berikut.

Nama Pelarasan (Steman)

No
Nama tetti’ atau petikan menurut versi
Sabki
Daman Hori B.S.
Cikdin Syahri SM
Masyarkat
Stem pal
1
Pal
Pal
Pal
Pal
Kembang Kacang/ Batang Kanyut
2
Mesuji/ Batang Kanyut
Kembang Kacang
Kembang Kacang
Kembang Kacang



Stem B
3
Mol (Stambul)
Stambul Be
Stambul Mol
Stambul
4
---
Kroncong Pandan
Keroncong Pandan
Keroncong Pandan
5
Bebai Balew
Tiga Serangakai
Tiga Serangkai
Tiga Serangkai
6
Las Bas
Las Bas
Las Bas
Las Bas
7
Satu Kris
Satu Kris
Satu Kris
Satu kris
8
Sanak Mewang Di Ejan
Serai Kasih
Cerai Kasih
Sri Kasih
9
Hawayang
Hawayang
Hawayang
Hawayang
Hawayang
10
Hawayang
Hawayang
Hawayang
Hawayang
Sanak Mewang
11
Sanak Mewang di Ejan
Serai Kasih
Cerai Kasih
Sri Kasih
Domisili Narasumber

Menggala Tulang Bawang
Tanjung Raja Lampung Utara
Sukadana Lampung Timur, Jakarta
Menggala Tulang Bawang
  
Tabel 2. Nama-nama sitem pelarasan (stem) dan petikan (tetti’) gitar klasik Lampung Tulang Bawang.


            Dua jenis pelarasan, yaitu stem pal dan stem kembang kacang masing-masing hanya digunakan untuk memainkan satu tetti’, stem pal dengan tetti’ pal, dan stem kembang kacang dengan tetti’ kembang kacang. Sedangkan tujuh tetti’ lainnya biasa dimainkan dalam stem be. Tetti’ hawayang dahulu biasa dimainkan dengan system pelarasan stem hawayang, tetapi baik dilakukan oleh seniman pelakunya atau masyarakatnya, antara lain karena, lupa istilah aslinya, atau ingin memeperkenalkan istilah baru. Istilah baru ini dpat menjadi mapan karena masyarakatnya tidak lagi dapat melakukan kendali terhadap istilah yang diajukan oleh seniman, karena seniman tersebut dianggap memiliki otoritas social menyangkut hal-hal yang terkait dengan kesenian tersebut. Istilah baru ini dapat terjadi berdasarkan doronagn psikologi si seniman untuk membentuk atau memepertahankan social dirinya di dalam masyarakat.

            Teknik pelarasan gitar klasik Lampung Tualang Bawang umunya dilakukan sebagai berikut: (1) menentukan tinggi nada dawai pertama; (2) menyamakan tinggi nada dawai kedua yang ditekan pada fret tertentu dengan dawai pertama; (3) menyamakan tinggi nada dawai ketiga yang ditekan pada fret tertentu dengan dawai kedua; (4) menyamakan tinggi nada dawai keempat yang ditekan pada fret tertentu dengan dawai ketiga; (5) menyamakan tinggi nada dawai kelima yang ditekan pada fret tertentu dengan dawai keempat; dan (6) menyamakan tinggi nada dawai keenam yang ditekan pada fret tertentu dengan dawai kelima.


C.    Bentuk Penyajian
1.      Penyajian Secara Langsung

      Dalam bentuk penyajian langsung, gitar klasik Lampung Tulang Bawang dapat tampil dalam beberapa kesempatan berbeda dengan tujuan yang berbeda pula, antara lain: 1. hiburan pribadi, 2. majau mulei (waktu berkunjung yang dilakukan oleh bujang Lampung kerumah gadis idamannya), 3. Malam Jaga Damar/Miyah Damar (ajang adu prestasi dan keterampilan memainkan gitar klasik Lampung dan mengubah syair secara spontan) 4. perkawinan, akikah, dan khitanan 5. Undangan pertunjukan lain dan 6. Perlombaan. Persoalan busana, waktu, tempat, dan bentuk komposisi music disesuaikan dengan tujuan pertunjukan tersebut.

      Sebagai hiburan pribadi, gitar klasik lampung biasanya dimainkan untuk menghibur diri sendiri, keluarga atau penonton terbatas, yang dilakukan pada malam hari disaat sepi dan hening diberanda atau ditangga rumah. Syair yang dinyanyikan umunya bernuansa sedih dan syahdu, karna berisi ungkapan batin, baik sesal terhadap nasib yang menimpa dirmaupun keluhan terhadap orang yang dikasihi.

2.      Pengunaan GItar Klasik Lampung
Gitar klasik Lampung digunakan sebagai hiburan dalam aktifitas pribadi dan aktifitas social masyarakat Tulang Bawang. Dalam aktifitas pribadi, gitar klasik Lampung Tulang Bawang digunakan sebagai alat ungkap perasaan, gagasan dan fikiran masyarakat Tulang Bawang pada saat-saat tertentu, mulai dari kegiatan perintang waktu hingga curahaan perasaan. Pada aktifitas social, gitar klaisk Lampung muncul dalam acara-acara seeprti jaga damar, upacara perkawinana, khitanan, atau kegiatan lembaga pemerintahan lainya.
3.      Fungsi Gitar Klasik Lampung

Fungsi seni pertunjukan dalam sebuah masyarakat sangatlah komfleks dan beragam. Identitas pun dapat dititik dari bagaimana masyarakat meletakkan fungsi seni pertunjukan yang mereka miliki. Kerumitan seni pertunjukan dalam masyarakat, yang dapat berbeda dari masyarakat lain, membuat belum pernah ada kesepakatan pendapat mengenai fungsi-fungsi seni pertunjukan yang sangat komfleks ini. Merujuk kepada batasan soedarso dan meriam, maka pertunjukan gitar klasik lampung tulang bawang memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :

a.       Fungsi sebagai hiburan ialah ditunjukkan kepada orang-orang yang berpartisipasi atau yang khusus menjadi penonton, yang merasa terhibur, baik karena keterampilan memetik gitar maupun, mengubah syair maupun oleh kandungan syairnya. Penonton umunya bersikap beragam saat menonton, mulai dari pasif, diam meresapi petikan gitarnya, lagu yang dinyanyikan oleh pesan syair hingga aktif terlibat pertunjukan.
b.    Fungsi sebagai media pengungkap perasaan ialah secara jelas terlihat pada syair yang dipergunakan, yang dapat merupakan ungkapan perasaan sang pemain sendiri, atau merupakan tafsiran prasaan dan pemikiran tuan rumah, penonton atau masyarakat, seperti contoh berikut :
Lamen nyak ago sebik                  bila kukenagkan nasib sendiri
Kak dapok nihan nyak now          memang demikian keadaanya
Jak sanak sagon sakik                   sedari kecil sakit menjadi
Sampai balak goh ejow                 hingga dewasa tetap jua menderita

c.       Fungsi pemuas rasa keindahan dan presentasi estetis ialah keterampilan memetik gitar, membuat system pelarasan dawai gitar dan menciptakan syair yang indah telah menjadi ruang pemuas rasa keindahan dan pada saat yang sama juga dapat juga menjadi ruang presentasi estetis pada masyarakat tulang bawang. keindahan mengolah kata, menemukan gerenek pada petikan gitar dan vocal, kesemuanya menimbulkan rasa puas karena telah melakukan sesuatu secara indah. Bila hasil penggalian keindahan ini dipertontonkan kepada kehalayak ramai, maka terciptalah panggung presentasi estetis menurut masyarakat tulang.
d.    Fungsi pendidikan dan komunikasi ialah tampak pada kandungan syairnya yang bertujuaan mendidik masyarakat atau penonton untuk bersikaf selaras dengan hal yang dianggap baik dan benar, patut atau tidak patut menurut pandangan hidup masyarakat tulang bawang. 
e.      Fungsi sebagai identitas budaya ialah suatu hal yang melekat bagi hak asasi dalam kehidupan seorang manusia. Identitas ini perlu dimiliki setiap manusia, baik secara pribadi maupun kelompok lainya. Identitas menjadi penanda, bahwa inilah diri saya, inilah suku bangsa saya, inilah pekerjaan saya, inilah kebangsaan saya, inilah profesi saya, inilah kelompok saya, dan sebagainya.
Anggapan, bahwa kebudayaan dapat berperan sebagai identitas etnik mempunyai konsekuensi teoritis yang mengharuskan orang memperlakukan kebudayaan sebagai tanda atau (sign). Pemikiran tentang hubungan antara tanda (signified) dengan yang ditandai (signifier) telah mengalami perubahan, dari semula memiliki makna tunggal, ini tidak demikian lagi. Sekali lagi, bahan, bentuk, hasil produksi (karakter) suara, dan cara memainkannya, adalah isyarat khas yang membuat suatu alat music dan diasosiasikan dengan pribadi, watak, dan budaya seseorang, masyarakat, atau bangsa tertentu.
Masyarakat Tulang Bawang mengakui petikan gitar klasik lampung sebagai bagian dari identitas budayanya, dengan melibatkan gitar klasik lampung dalam beberapa kegiatan kemasyarakatan, maka masyarakat sebenarnya masyarakat tulang bawang ingin mengungkapkan, bahwa inilah music tulang bawang. Identitas budaya ini diperoleh dari modus vocal dan gitar, teknik petikan, nama tetti’ dan system pelarasan, bahasa yang digunakan, dan fungisnya dalam masyarakat tulang bawang yang berbeda dengan marga dan etnis lain. Hal lain adalah proses yang harus dijalini oleh seniman hingga diakui oleh masyarakat, yang dpat berbeda disetiap masyarakat, hingga dapat dijadikan identitas sosial.
KESIMPULAN
Kata Tulang Bawang memiliki kedekatan pelafalan dengan To-lang p’o-hwang yang berarti orang Lampung. Lampung sendiri berarti mengapung diatas air. Pelafalan lain untuk kata Lampung adalah lapping yang berarti luas. Pertunjukan gitar klasik Lampung Tulang Bawang adalah permainan vocal instrumental yang dapat bentuk ansambel. Pada pertunjukan tunggal, gitar bermain solo. Dalam format ansambel, gitar tampil bersama cuk dan botol limun yang dipukul dengan batang logam. Struktur music pada setiap tetti’ berbeda, beberapa diantaranya memiliki kedekatan bunyi dan alur melodi.
            Kedua jenis permainan instrumental tersebut dapat mengiringi vocal. Melodi gitar bersifat baku sehingga syair yang dinyanyikan harus mengabdi kepada music dengan bergerak membentuk rangkaian nada di sekitar melodi gitar dan melakukan penyesuaian berupa pengulangan suku kata, kata atau kalimat tertentu sesuai dengan tetti’ yang dibawakan atau kehendak sang seniman dengan tetap mengacu kepada alur melodi gitar sebagai panduan. Yang masih aktif dipergunakan dalam permainan gitar klasik Lampung Tulang Bawang saat ini adalah stem pal, stem kembang kacang, dan stem be. Tetti’ sanak mewang di ejan dahulu biasa dimainkan dengan memepergunakan system pelarasan stem sanak mewang, dan tetti’ hawayang biasa dimainkan dalam stem hawayang, tetapi saat ini kedua tetti’ tersebut lebih sering diaminkan mempergunakan stem be.
    Perubahan system pelarasan dawai pada gitar klasik Lampung Tulang Bawang bertujuan memudahkan teknik penjarian yang berakar pada konsep-konsep dalam masyarakat Tulang Bawang, yaitu konsep : music, estetik, social, dan hukum. Konsep music dalam masyarakat Tulang Bawang adalah : (1) bunyi yang enak didengar; (2) dihasilkan oleh manusia; (3) dari alat yang dibuat untuk tujuan bermusik; (4)  mempunyai melodi; (5) pola dan aturan; (6) mempunyai tujuan; (7) syairnya mengandung muatan tertentu. Salah satu konsep keindahan dalam masyarakat Tulang Bawang adalah getaran bunyi yang menghilang secara alami dan berangsur-angsur.
            Gitar klasik Lampung disajikan dalam aktivitas masyarakat Tulang Bawang secara langsung dengan menjadi hiburan dalam kegiatan social seperti acara pernikahan, khitanan, aqiqah, jaga damar, juga acara-acara lembaga-lembaga pemerintah dan kemasyarakatan. Bentuk sajian langsung ini dimanfaatkan oleh masyrakat Tulang Bawang untuk menjaga struktur dan norma social kemasyarakatan melalui penyerapan kandungan makna yang dihembus oleh syair-syair yang digunakan. Bentuk penyajian music dalam bentuk rekaman audio dan audio visual merupakan kretifitas yang bertujuan untuk menjangkau masyarakat lebih luas, memanfaatkan perkembangan teknologi, melestarikan seni pertunjukan gitar klasik Lampung Tulang Bawang, dan penambahan pendapatan. Gitar klasik Lampung Tulang Bawang mualai memasuki industry rekaman tahun 1976.
            Pada awalnya gitar klasik Lampung Tulang Bawang adalah jenis kesenian yang bersifat hiburan pribadi, dan lebih banyak dikuasai oleh wanita, yang dipelajari oleh gadis-gadis Tulang Bawang untuk menghibur diri dari kejenuhan rutinitas kegiatan sehari-hari, karena hokum adat Megou Pak Tulang Bawang mewajibkan gadis-gadis Tulang Bawang untuk lebih banyak berdiam di rumah, mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga sebagai bekal menikah kelak. Beberapa jenis petikan juga dianggap sebagai lebih layak dinyanyikan wanita karena ambitus dan alur melodinya, yaitu tetti’ las bas, tetti’ sanak mewang di ejan, tetti’ hawayang dan tetti’ tiga serangkai.
            Menurut tingkat penguasaan dan minat wanita dalam genre pertunjukan ini karena; (1) pengaruh perkembangan teknologi yang menyediakan ragam hiburan pribadi yang lebih beranek, (2) pengaruh hokum mayorat laki-laki yang dianut oleh masyarakat Megou Pak Tulang Bawang, yang mendahulukan kepentingan dan kedudukan laki-laki, (3) pengaruh pergeseran fungsi dan kedudukan genre kesenian ini dalam masyarakat; dan (4) pengaruh kecilnya nilai ekonomi dalam genre kesenian ini.
            Gitar klasik Lampung Tulang Bawang menjadi music dan identitas budaya masyarakat Tulang Bawang karena: (1) system pelarasan dawai gitar; (2) penamaan system pelarasan dan petikan atau tetti’; (3) modus vocal dan gitar; (4) teknik petikan yang hanya dua jari, (5) bahasa yang digunakan; (6) alat music yang digunakan; dan (7) fungsinya dalam masyarakat Tulang bawang. Acaman terhadap keberlangsungan keberadaan gendre gitar klasik Lampung Tulang Bawang terjadi karena antara lain : (1) Menurut minat generasi muda Lampung Tulang Bawang; (2) Perkembangan teknologi hiburan; (3) Kurangnya perhatian lembaga-lembaga adat, lembaga kesenian dan kebudayaan, serta lembaga pemerintaha; (4) Menurunnya pemakaian bahasa Lampung dalam kehidupan sehari-hari; (5) Rendahnya nilai tambahan ekonomi bagi para penggiatnya; ( 6) Pergeseran fungsi dan kedudukannya di dalam aktivitas social masyarakat Tulang Bawang; dan (7) Semakin berkurangnya orang yang menguasainya.

Beberapa hal yang dapat dijadikan alternative dalam upaya melestarikan genre kesenian gitar klasik Lampung Tulang Bawang adalah : (1) Membuat dokumentasi audio visual dan tertulis secara terperinci dan menyebarkan hasilnya ke lembaga-lembaga, pendidikan, kesenian dan kebudayaan, adat, masyarakat, dan instansi pemerintah; (2) Memasukannya sebagai mata pelajaran muatan local atau eskstra kurikuler di semua tingkat pendidikan; (3) Mengadakan lomba-lomba untuk merangsang kreativitas; (4) Lebih mengaktifkan lembang-lembaga kesenian, adat, dan kebudayaan; (5) Meningkatkan penghargaan financial kepada para seniman penggiatnya; (6) Mengadakan pertunjukan secara berkala; dan (7) Mengadakan pelatihan rutin.

KEPUSTAKAAN

Banoe, Pono. Kamus Musik Yogyakarat: Penerbit Kanisius, 2003

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2002).

Hasan, Hafizi. et al. Diskripsi Musik Tradisional Gitar Tunggal. Bandar Lampung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Provinsi Lampung, 1998.
Fattah, Fauzi. Kamus Bahasa Lampung: Lampung-Indonesia Bandar Lampung: Gunung Pesagi, 2002.
Junaiyah H.M., Kamus Besar Bahasa Lampung – Indonesia Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
Poesponegoro, Marwati Djoned. dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka, 1993

Soedarsono, R.M. Seni Pertunjukan Indonesia Di Era Globalisasi Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002.

______________. Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2001.
______________. Seni Pertnjukan Dari Persepektif Politik, Sosial, dan Ekonomi Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2003.

Supanggah, Rahayu, Bothekan Karawitan I Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2002.




[1] Poesponegoro dan Notosusanto, 1993b, 64-67.
[2] Pono Banoe, Kamus Musik (Yogyakarat: Kanisius, 2003), 87.
[3] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), 574.
[4] Hafizi Hasan, Diskripsi Musik Tradisional Gitar Tunggal (Bandar Lampung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Provinsi Lampung, 1998/1999).
[5] R.M. Soedarsono, Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, Cetakan Kedua, 2001), 170-171.
[6] Rahayu Supanggah, Bothekan Karawitan I (Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2002), 85.
[7] Junaiyah H.M., Kamus Besar Bahasa Lampung – Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), 4 dan Fauzi Fattah, Kamus Bahasa Lampung: Lampung-Indonesia (Bandar Lampung: Gunung Pesagi, 2002).
[8] R.M. Soedarsono, Seni Pertunjukan Dari Persepektif Politik, Sosial, dan Ekonomi (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2003), 211.