Rabu, 04 Juni 2014

PENGARUH ORANG BALI TERHADAP MUSIK TRADISI DI LAMPUNG

Penulis: Raden Aditya Saputra Nugraha
Ansambel Talo Balak yang berada di Kampung Kota Alam
(Foto: Erizal Barnawi, 15 Maret 2013).

I. Pendahuluan.
Lampung merupakan salah satu provinsi di wilayah Sumatera bagian selatan yang kaya dalam kultur kesenian musik tradisinya. Masyarakat adat Lampung memiliki falsafah hidup yang masih mereka junjung tinggi dalam keseharian dan menjadi ciri khas bagi masyarakat adat tersebut. Misthohizzaman menyebutkan lima urutan dari falsafah yang dapat mempersatukan perbedaan antara masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin.[1]  Kelima falsafah tersebut antara lain: pi’il pasenggiri (rasa harga diri), bejuluk beadek (memiliki julukan dan gelar adat), nemui nyimah (terbuka tangan/suka memaafkan), nengah nyappur (hidup bermasyarakat, dan menghormati tamu), dan sakai sambayan (tolong menolong).
Selain dari pada itu, Lampung merupakan gerbang masuknya suatu budaya aktif di masa saat ini. Akulturasi antara budaya asing dan budaya lokal berbaur dengan asrinya masyarakat setempat. Disinilah, titik dimana lintas budaya Hindu dan Islam berkembang cukup pesat. Sehingga menjadikan karakteristik musik daerah Lampung menjadi kaya. Dalam hal ini musik daerah Lampung terdefinisi dalam musik dengan tabuhan yang dinamis. Di daerah Lampung pun terdapat unsur musik yang bernuansa Islam yang ditandai dengan adanya permainan seperti Rebana, Gambus, dan Akordion. Namun tetap harmoni dengan serat tabuh Talo Balak yang kemudian melahirkan corak asli musik daerah Lampung. Talo Balak adalah seperangkat alat musik tradisional daerah Lampung yang sudah dikenal oleh masyarakat Lampung pada umumnya, sebab secara adat alat musik ini memegang peranan sangat penting terutama dalam acara adat. Beberapa sumber dari tokoh adat dan masyarakat Lampung menganggap dengan tanpa kehadiran ansambel Talo Balak ini maka upacara atau acara adat dianggap kurang atau tidak sempurna.[2]
Adapun instrumen yang mendukung corak musik daerah Lampung yang bernuansa Hindu adalah: Gong, Kulintang, Cetik, Canang, Gujih, Tawa-tawa, dan Kendhang dok-dok. Pada tiap-tiap instrumen di Lampung dasarnya selalu di gunakan untuk hiburan dan ritual. Seperti instrumen canang digunakan sebagai tanda-tanda pengumuman bahwa di dalam kampung (tiyuh) terdapat seseorang petinggi di dalam adat telah meninggal dunia. Atau pun instrumen gujih, dipercayai sebagaian masyarakat Lampung dalam melakukan ritual upacara adat pengambilan gelar adat atau pun julukan selalu mengundang roh nenek moyang (apew tuyuk) untuk ikut dalam melakukan legitimasi penyimbang adat.
Keadaan sosial masyarakat Lampung yang sangat terbuka terhadap hal-hal baru, baik berupa kebudayaan maupun produk kesenian luar, ternyata sangat mempengaruhi kemurnian atau keaslian teknik permainan musik daerah Lampung itu sendiri. Dalam hal ini,  masuknya kebudayaan dari daerah Bali yang dibawa oleh para pendatang (tranmigrasi) dari daerah tersebut ternyata mempunyai andil besar dalam kemajuan musik tradisi daerah Lampung. Sebagai contoh: teknik permainan rebana di Lampung sebenarnya tidak terlalu didominasi pola atau motif pukulan yang terlalu rapat, seperti yang dimainkan dalam permainan kendhang, Lanang dan Wadon di daerah Bali. disebabkan oleh campur tangan para pendatang dari Bali yang terlampau besar sampai menciptakan laras nada pada cetik yang sebelumnya, belum ada di daerah Lampung. Akhirnya ada.
Kekhawatiran yang ditimbulkan adalah adanya ketidak-murnian permainan musik daerah Lampung yang dibawa sampai masa kekinian. Pada sebagian masyarakat asli Lampung, mengatakan bahwa musik asli daerah Lampung tidak mempunyai pola permainan yang terlalu rapat, banyak motif dan dinamis. Namun ketidakberdayaan untuk mengubah pola yang telah melekat, mengakar pada musik tradisi Lampung sejak lama akhirnya menjadikan mereka hanya sebatas pengkritik seni semata.

II. Pembahasan
Kedatangan masyarakat Bali contohnya salah satu seniman Lampung yang berasal dari bali adalah wayan woko biasa panggilan akrabnya, dia salah satu orang Bali yang berperan penting dalam kesenian tradisi Lampung khususnya cetik alat musik yang berbahan dasar bambu ini dia orang yang mematenkan atau menemukan lasar pada cetik tersebut dan kemudian melakukan seminar keberbagai kota dan pulau didaerah Indonesia tentunya dengan dana sendiri om Wayan Woko biasanya dia dipanggil. Beliau merupakan salah satu pegawai di Dinas Pariwisata Provinsi Lampung. selain dari pada itu, ini lah satunya yang memudahkan beliau untuk ambil besar dalam penetrasi budaya terhadap kebudayaan Lampung sebenarnya dalam batas kewajaran. Namun, karena masyarakat Bali terkenal giat dalam menggali potensi kesenian musik Lampung dari pada masyarakat Lampung itu sendiri, akhirnya secara tidak langsung musik asli daerah Lampung mengalami change of culture in music secara besar-besaran.
      Sebagai suatu penggalian terhadap kesenian Lampung analisis menurut saya meliputi pengaruh positif dan pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh adanya akulturasi dari pola permaian musik Bali ke pola permianan musik Lampung.  adapun pengaruhnya sebagai berikut :
1) Pengaruh positif.
     Pengaruh positif di sini yaitu suatu kemajuan terhadap perubahan dalam hal pola permainan, tema lagu, dan kembang (grinik) dalam setiap pelaku seni. Sebagai contohnya: motif permainan musik di daerah Lampung menjadi semakin kaya, dengan kata lain, terdapat suatu imbal-imbalan di dalam pola permainan rebana, dan terdapat permainan dinamika serta permainan yang interaktif terhadap penonton atau audiens yang menghari dalam suatu pertunjukan kesenian di Lampung.
      Pengaruh positif lain di dalam perkembangan musik tradisional khas Lampung yaitu kesenian musiknya di daerah Lampung menjadi lebih hidup. Artinya, musik lampung yang berawal dari ritual menjadi hiburan. Seperti, musik-musik pengiring upacara adat yang sangat monoton di kombinasikan dengan permainan yang kreatif akhirnya menjadi meriah, megah, dan mempesona. Pada sebagian masyarakat Lampung menjadi lebih bergairah dalam memainkan musik tradisional, karena telah adanya pengaruh permainan yang sangat mendukung untuk tiap-tiap pemain musik tradisi menjadi lebih tinggi penjiwaannya dalam bermusik (soul).
 
2) Pengaruh negatif.
         Pengaruh negatif dalam hal ini, bukan sebagai perusak atau hal-hal yang jelek. Akan tetapi sebagai suatu istilah saja. Sebagai contoh negatif perubahan musik tradisi di Lampung yang beralkuturasi yakni; keaslian motif permainan dalam bermusik di daerah Lampung menjadi berkurang, artinya permainan musik yang selalu berkembang merubah gaya permainan di tiap-tiap pemain musiknya. Selain dari pada itu, para pemain musik selalu ini berkontemporer yang akhirnya menyebabkan akan melupakan motif-motif Lampung, yang walaupun masih tetap memegang idom ciri khas Lampung tersebut.
       Contoh lain dari sisi negatif akulturasi musik Lampung dengan Bali yaitu; menjadikan masyarakat Lampung sendiri kurang peka terhadap jati diri kesenian musik Lampung. Maksudnya disini, masyarakat yang dulu disajikan permainan musik khas tradisi Lampung sekarang menjadi lebih tidak peka terhadap musik yang berkembang di Lampung pada saat ini. Serta dampak lainnya menjadikan masyarakat Bali sebagai tokoh yang memajukan musik tradisi  Lampung. Padahal mereka bukan memajukan tapi ikut turut andil dalam mengembangkan.

III. Penutup
a. Kesimpulan :
Sebagai Masyarakat asli Lampung dalam kasus ini sangat merenggut kekhawatiran saya sebagai seorang pemerhati seni. Sesuatu yang telah tumbuh, berakar sejak lama dan tumbuh berkembang di daerah Lampung tidak akan bisa dirubah dalam kurun waktu yang relatif singkat. Oleh sebab itu, tentulah penting bagi kita selaku generasi seniman mendatang untuk memacu semangat masyarakat pribumi asli Lampung untuk melesetarikan kebudayaannya sendiri tanpa campur tangan masyarakat lain. Dalam hal ini bukan sebuah pelarangan terhadap penetrasi kebudayaan baru yang masuk, namun akan lebih harmoni bila masyarakat aslinya sendiri yang mengembangkan keseniannya dengan mampu menyalakan filternya terhadap elemen kebudayaan-kebudayaan baru.

b. Rekomendasi/Saran:
Beberapa hal yang dapat dijadikan alternatif dalam upaya melestarikan kesenian Lampung dalam hal ini adalah musik tradisional yaitu sebagai berikut: 1) Membuat dokumentasi audio visual dan tertulis secara terperinci dan menyebarkan hasilnya ke lembaga-lembaga pendidikan, kesenian dan kebudayaan, adat, masyarakat, dan instansi pemerintah; 2) Memasukkan sebagai mata pelajaran muatan lokal atau ekstra kurikuler di semua tingkat pendidikan; 3) Mengadakan lomba-lomba untuk merangsang kreativitas; 4) lebih mengaktifkan lembaga-lembaga kesenian, adat dan kebudayaan; 5) meningkatkan penghargaan finansial kepada para seniman penggiatnya; 6) mengadakan pertunjukan secara berkala; dan 7) mengadakan pelatihan rutin.



        [1]Misthohizzaman, “Musik dan Identitas Masyarakat Tulang Bawang” (Tesis untuk meraih gelar S2 pada Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Sekolah Pascasarja Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2006), p. 56-61.
      [2]Erizal barnawi, “Talo Balak Dalam Begawei Mepadun Munggahi Bumei Marga Nyunyai” (Skripsi untuk meraih gelar S1 pada Jurusan Etnomusikologi  Minat utama Pengkajian Musik Etnis Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2013), p. 5.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar